Sebagai salah satu pusat industri terbesar di Jawa Timur, wilayah Gresik memiliki tantangan lingkungan yang cukup kompleks terkait dengan kualitas udara dan paparan polutan sisa produksi pabrik. Upaya untuk atasi efek limbah industri kini difokuskan pada pemulihan kesehatan sistem pernapasan warga yang tinggal di sekitar kawasan pabrik kimia, semen, dan pengolahan logam. Paparan debu halus dan emisi gas secara terus-menerus dapat menyebabkan penurunan fungsi paru-paru, yang ditandai dengan gejala sesak napas, batuk berdahak kronis, hingga risiko asma akibat kerja yang semakin meningkat.
Metode medis yang mulai diterapkan untuk atasi efek limbah industri adalah melalui program fisioterapi atau terapi pernapasan yang dirancang untuk membersihkan saluran napas dari partikel sedimen. Teknik seperti pursed-lip breathing dan latihan pernapasan diafragma diajarkan kepada warga untuk membantu meningkatkan kapasitas vital paru-paru dan mempermudah pengeluaran lendir yang mengandung polutan. Selain itu, penggunaan nebulizer dengan cairan pembersih saluran napas tertentu sering dilakukan di klinik-klinik kesehatan setempat bagi warga yang sudah menunjukkan tanda-tanda penyempitan bronkus akibat iritasi bahan kimia.
Selain intervensi medis, langkah penting dalam atasi efek limbah industri adalah dengan melakukan detoksifikasi melalui pola hidup sehat di rumah. Masyarakat disarankan untuk memperbanyak konsumsi air putih dan makanan yang mengandung antioksidan tinggi seperti brokoli dan tomat, yang berfungsi sebagai penangkal radikal bebas dari udara yang tercemar. Penanaman pohon peneduh yang mampu menyerap gas beracun (seperti lidah mertua atau trembesi) di pekarangan rumah juga menjadi tindakan nyata untuk memperbaiki kualitas udara mikro di sekitar tempat tinggal warga.
Edukasi mengenai penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti masker dengan filter karbon aktif terus digalakkan sebagai strategi untuk atasi efek limbah industri secara preventif. Warga, terutama anak-anak dan lansia yang memiliki sistem imun lebih rentan, diimbau untuk mengurangi aktivitas luar ruangan pada jam-jam tertentu saat aktivitas pabrik sedang berada pada puncaknya. Pengawasan rutin terhadap emisi pabrik oleh pihak berwenang juga harus dibarengi dengan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat terdampak guna mendeteksi gejala kerusakan paru-paru secara dini sebelum menjadi kronis.
