Bekerja lembur setiap hari ternyata bisa berakibat buruk bagi kesehatan tubuh maupun mental seseorang. Banyak penelitian membuktikan bahwa beban kerja berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Tidak hanya mengganggu jam biologis tubuh, tetapi juga berakibat buruk pada kualitas hidup secara keseluruhan, terutama jika lembur dilakukan tanpa pengaturan waktu istirahat yang cukup.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI (rilis 2 Mei 2024), pekerja yang rutin bekerja lebih dari 10 jam per hari memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi, stres berat, hingga penyakit jantung. Studi lain dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menegaskan bahwa jam kerja berlebih secara konsisten berakibat buruk terhadap kesehatan jantung dan meningkatkan angka kematian akibat stroke sebesar 35%.
Di Jakarta, tercatat pada 1 April 2024, dalam kegiatan inspeksi rutin yang dilakukan oleh Dinas Ketenagakerjaan di 20 perusahaan, ditemukan bahwa 30% karyawan mengalami kelelahan akut. Petugas lapangan, Dwi Prasetyo, menyatakan bahwa banyak pekerja tidak menyadari dampak lembur jangka panjang yang dapat berakibat buruk pada kondisi fisik seperti gangguan tidur, obesitas, hingga penurunan sistem kekebalan tubuh.
Selain kesehatan fisik, dampak lembur juga menyentuh aspek psikologis. Menurut psikolog klinis RSUD Tangerang, dr. Niken Ayu, dalam seminar kesehatan mental pada 15 Maret 2024, pekerja yang sering lembur tanpa cukup waktu istirahat menunjukkan gejala depresi, kecemasan berlebih, hingga burnout syndrome. Semua kondisi ini, jika tidak ditangani dengan baik, akan berakibat buruk terhadap performa kerja dan hubungan sosial seseorang.
Solusi untuk mencegah efek buruk ini antara lain adalah dengan menerapkan manajemen waktu yang baik, memberikan waktu istirahat yang cukup, serta mengutamakan pola makan sehat dan olahraga rutin. Perusahaan juga dianjurkan untuk menerapkan kebijakan kerja sehat, seperti pembatasan jam lembur dan program kesejahteraan karyawan.
Kesadaran akan bahaya bekerja lembur yang berakibat buruk bagi kesehatan harus mulai ditanamkan sejak dini, baik oleh individu pekerja maupun pihak manajemen. Dengan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kesehatan, produktivitas dapat tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kesejahteraan.
