Sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia, pengawasan terhadap K3 Industri Gresik menjadi fokus utama dalam praktik lapangan mahasiswa kesehatan kerja. Keselamatan dan Kesehatan Kerja bukan hanya soal aturan administratif, melainkan menyangkut nyawa ribuan pekerja yang berinteraksi dengan mesin berat dan bahan kimia berbahaya setiap hari. Mahasiswa di Gresik dilatih untuk melakukan audit internal dan penilaian risiko, terutama dalam mengevaluasi kelayakan Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan oleh para buruh pabrik untuk memastikan perlindungan maksimal sesuai standar nasional dan internasional.
Dalam melakukan evaluasi K3 Industri Gresik, mahasiswa melakukan pengecekan terhadap masa pakai dan spesifikasi teknis APD seperti helm pelindung, sepatu safety, masker respirator, hingga pelindung telinga (earplug). Banyak ditemukan kasus di mana APD sudah mengalami degradasi material namun masih digunakan, yang tentu saja mengurangi efektivitas perlindungannya. Mahasiswa memberikan rekomendasi berdasarkan hasil pengujian lapangan mengenai jenis APD yang paling sesuai dengan risiko spesifik di tiap departemen, seperti kebutuhan kacamata anti-radiasi di bagian pengelasan atau sarung tangan tahan asam di area pengelolaan limbah kimia.
Pendidikan mengenai K3 Industri Gresik juga mencakup perilaku pekerja dalam menggunakan alat keselamatan tersebut. Mahasiswa sering menemukan adanya resistensi pekerja yang merasa tidak nyaman menggunakan APD lengkap karena cuaca panas atau menganggapnya mengganggu ruang gerak. Melalui penyuluhan yang persuasif, mahasiswa menjelaskan dampak jangka panjang dari kelalaian kecil, seperti risiko gangguan pendengaran permanen atau penyakit paru akibat debu industri. Pendekatan ini bertujuan untuk membangun budaya selamat (safety culture) di mana pekerja menggunakan APD atas dasar kesadaran diri, bukan karena takut sanksi.
Integrasi ilmu kesehatan dengan dunia industri melalui pengawasan K3 Industri Gresik ini memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa sebelum mereka benar-benar masuk ke dunia kerja sebagai HSE Officer (Health, Safety, and Environment). Perusahaan-perusahaan di Gresik pun merasa terbantu dengan adanya masukan objektif dari sisi akademis untuk terus meningkatkan standar keselamatan kerja mereka. Dengan pengawasan yang ketat dan edukasi yang berkelanjutan, diharapkan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di Gresik dapat ditekan serendah mungkin, menciptakan lingkungan industri yang produktif, aman, dan manusiawi bagi seluruh pekerjanya.
