Kesehatan seluler manusia senantiasa berada di bawah ancaman berbagai zat kimia dan radiasi yang terdapat di lingkungan sekitar kita. Secara onkologi, Paparan karsinogen baik dari asap rokok, polusi industri, maupun bahan tambahan pangan berbahaya dapat merusak struktur DNA di dalam inti sel. Zat-zat ini bekerja sebagai agen pengganggu yang menyebabkan putusnya rantai nukleotida atau kesalahan saat proses replikasi sel berlangsung. Jika kerusakan ini mengenai gen penekan tumor (tumor suppressor genes) atau onkogen, maka mekanisme kontrol pembelahan sel akan hilang, yang mengakibatkan sel tumbuh secara liar dan tidak terkendali membentuk massa jaringan yang kita kenal sebagai kanker.
Proses transformasi dari sel normal menjadi sel ganas akibat Paparan karsinogen biasanya berlangsung dalam jangka waktu yang lama melalui tahapan inisiasi, promosi, dan progresivitas. Pada tahap inisiasi, zat karsinogenik mengubah cetak biru genetik sel secara permanen namun sel tersebut belum menunjukkan gejala luar biasa. Namun, jika paparan terus berlanjut disertai dengan gaya hidup yang buruk, sel-sel yang telah bermutasi tersebut akan mulai membelah diri dengan sangat cepat dan mengabaikan sinyal kematian sel terprogram (apoptosis). Ketidakmampuan tubuh untuk memperbaiki kerusakan DNA ini menjadi titik awal munculnya berbagai jenis keganasan yang dapat menyerang organ paru, hati, hingga sistem limfatik manusia.
Stikes Gresik, penelitian mengenai toksikologi lingkungan menyoroti bahwa Paparan karsinogen di wilayah industri harus dipantau dengan standar ambang batas yang sangat ketat. Para mahasiswa diajarkan untuk mengidentifikasi zat-zat seperti benzena, asbes, dan formaldehida yang sering ditemukan dalam limbah pabrik yang tidak terolah dengan baik. Mereka melakukan pengabdian masyarakat untuk mengedukasi warga mengenai pentingnya penggunaan masker respirator dan menjaga kebersihan air konsumsi agar tidak terkontaminasi logam berat karsinogenik. Deteksi dini melalui skrining penanda tumor menjadi sangat krusial bagi mereka yang tinggal di area berisiko tinggi guna mengantisipasi perubahan seluler sebelum memasuki stadium lanjut yang sulit diobati. Pencegahan menjadi langkah yang jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan karena biaya terapi kanker yang sangat mahal dan efek sampingnya yang merusak kualitas hidup.
