Bagi perempuan yang didiagnosis menderita kusta, perjuangan mereka seringkali merupakan beban ganda: melawan penyakit fisik dan menghadapi Stigma Gender yang lebih parah. Meskipun kusta menyerang pria lebih sering, dampak sosial-ekonomi dan psikologisnya pada perempuan jauh lebih menghancurkan. Di banyak masyarakat patriarkal, diagnosis kusta pada perempuan dapat memicu pengucilan ekstrem, mengarah pada putusnya ikatan pernikahan dan pengusiran dari rumah keluarga, hanya karena peran sosial mereka sebagai ibu dan istri dianggap telah tercemar.
Stigma Gender yang terkait dengan kusta seringkali berakar pada persepsi tentang kesucian dan peran reproduksi. Seorang perempuan yang terdiagnosis kusta dianggap tidak layak menjadi pasangan atau ibu, meskipun kusta dapat disembuhkan total dengan terapi multi-obat (Multi-Drug Therapy atau MDT) dan tidak diturunkan melalui keturunan. Ketakutan yang tidak berdasar ini membuat perempuan penyintas kusta kesulitan menikah atau mempertahankan pernikahan mereka, merusak potensi mereka untuk Memahami Koneksi sosial dan keluarga.
Akses perempuan terhadap diagnosis dan pengobatan juga terhambat oleh Stigma Gender. Di beberapa wilayah, norma budaya mengharuskan perempuan untuk didampingi oleh wali laki-laki saat mencari perawatan medis. Rasa malu yang mendalam dan takut akan reaksi keluarga seringkali membuat perempuan menunda mencari bantuan hingga gejala fisik kusta sudah parah dan menimbulkan deformitas. Keterlambatan ini meningkatkan risiko kecacatan permanen.
Program Intervensi Pediatrik dan kesehatan masyarakat harus secara khusus menargetkan perempuan untuk mengatasi kesenjangan akses ini. Membangun klinik yang ramah perempuan, menyediakan konseling pribadi dan rahasia, serta melatih petugas kesehatan perempuan dapat membantu mengurangi hambatan. Perlu ada upaya kolektif untuk menantang norma yang menghambat perempuan untuk membuat keputusan kesehatan mereka sendiri tanpa rasa takut akan diskriminasi atau hukuman sosial.
Stigma Gender ini juga memengaruhi peluang ekonomi perempuan penyintas kusta. Kecacatan fisik, ditambah dengan label sosial, membuat mereka sulit mendapatkan pekerjaan, memaksa mereka hidup dalam kemiskinan dan isolasi sosial yang berkepanjangan. Bahkan setelah sembuh, diskriminasi ini dapat terus berlanjut, menunjukkan bahwa MDT hanya menyembuhkan tubuh, tetapi psikolog dan dukungan sosial diperlukan untuk menyembuhkan jiwa.
Organisasi yang berfokus pada penyintas kusta kini memprioritaskan pemberdayaan ekonomi perempuan. Memberikan pelatihan keterampilan, modal usaha mikro, dan dukungan kelompok adalah cara efektif Mengatasi Kelelahan sosial. Ketika perempuan penyintas kusta mencapai kemandirian finansial, harga diri mereka meningkat dan pandangan masyarakat terhadap mereka mulai berubah dari objek belas kasihan menjadi agen perubahan yang produktif.
Penting untuk menyoroti kisah-kisah sukses perempuan penyintas kusta yang telah bangkit dan menjadi advokat. Kisah-kisah ini berfungsi sebagai alat edukasi yang kuat, menunjukkan kepada masyarakat bahwa kusta adalah penyakit yang dapat disembuhkan dan bahwa perempuan yang terkena dampaknya tetap berharga dan berdaya. Edukasi publik yang berkelanjutan adalah kunci untuk mengubah persepsi yang sudah mengakar.
